Senin, 08 September 2008

What Color is Your Aura?

hmmm...

udah lama banget gak posting nih! *huff Abisnya saya sibuk banget beberapa minggu (atau lebih tepatnya bulan ya?) ini. Kuliah udah semakin menggila, ya, ternyata masih bisa jadi lebih gila lagi dibanding selama ini. Hehe. Tapi alhamdulillah kali ini saya bisa ngejalanin semuanya dengan cukup baik. And finally, i reached my highest IPS ever this semester. Yay!!

Tapiiiiii... perjuangan ternyata masiiiih panjang! Karena masih banyak ujian-ujian lainnya yang menyusul, dimulai dari tanggal 15 September ini. Oh,well. Wish me luck guys, i need it. Enough about the never-ending exams, barusan saya iseng-iseng ngisi kuis di internet tentang "What color is your aura?". And here is the result...





Your Aura is Blue



Spiritual and calm, you tend to live a quiet but enriching life.

You are very giving of yourself. And it's hard for you to let go of relationships.



The purpose of your life: showing love to other people



Famous blues include: Angelina Jolie, the Dali Lama, Oprah



Careers for you to try: Psychic, Peace Corps Volunteer, Counselor

Rabu, 25 Juni 2008

resensi novel Artemis Fowl



Novel ini dibuka dengan prolog yang mendeskripsikan mengenai sosok Artemis Fowl, yang merupakan tokoh sentral dari keseluruhan ceritanya. Meskipun dalam prolognya dikatakan bahwa sangat sulit untuk menerangkan tentang seorang Artemis Fowl, tapi justru dengan penjabaran yang seperti itulah kita dapat membayangkan sosok Artemis dengan lebih akurat, lengkap dengan kejeniusannya yang membius. Karakter Artemis Fowl yang dingin dan tenang seringkali membuat kita lupa bahwa sang tokoh utama tersebut baru berusia 12 tahun. Tapi ternyata Eoin Colfer tidak lupa, dengan ahli Colfer menampilkan sosok anak-anak Artemis Fowl pada momen-momen yang tepat yang akan membuat pembaca berpikir, “Ah, ternyata dia TETAPLAH anak-anak..”
Eoin Colfer, melalui novel ini, berusaha mengajak para pembacanya berpetualang dalam dunia fairy tale yang ia ciptakan sendiri, dalam sudut pandang yang sama sekali berbeda dengan yang sudah ada sebelumnya. Dia tidak menawarkan sosok peri yang polos dan cantik, sebagai gantinya ia menampilkan sosok peri yang cerdas dan canggih. Sekilas penjabaran ini membuat para peri yang selama kita tahu menjadi terlalu manusiawi dan terlalu rasional karena Colfer menggunakan teknologi untuk menerangkan kemampuan-kemampuan sihir para peri. Colfer sepertinya memang ingin agar para pembacanya dapat dengan mudah memasuki ‘dunia’ yang ia ciptakan, tapi terlepas dari semua itu, melihat para peri dari sudut pandang yang sama sekali berbeda dari yang biasa kita lakukan tetaplah suatu pengalaman yang menarik.
Alur cerita novel ini mengalir cepat dan tidak bertele-tele. Dimulai dengan usaha pencarian Artemis Fowl akan keberadaan bangsa peri demi memulihkan kekayaan keluarganya dan menunjukkan superioritasnya pada bangsa peri , segera dilanjutkan dengan bagaimana Artemis dan bangsa peri mengadu kepintaran bahkan kelicikan untuk mengalahkan satu sama lain. Semua konflik-konflik diceritakan dengan gaya bahasa yang menarik sehingga membuat saya merasa sedang menonton sebuah film bukannya membaca novel. Gaya bahasa yang dipakai Eoin Colfer begitu memudahkan kita dalam membayangkan ‘dunia’ Artemis Fowl. Kita tidak perlu terlalu mengerutkan kening dalam membaca novel ini, membuat membaca novel ini sebuah rekreasi yang menyegarkan. Ditutup dengan ending yang menarik, novel ini benar-benar layak ikut menghiasi perpustakaan pribadi kita.
P.S Quote favorit saya dari novel ini ...
"Keyakinan adalah kebodohan. Kalau kau merasa sombong, itu karena ada sesuatu yang tidak kau ketahui." -Foaly

Jumat, 06 Juni 2008

more info about Twilight the Movie



Saia baru saja mengunjungi website stepheniemeyer.com dan akhirnya saia memutuskan untuk langsung posting lebih lanjut tentang Twilight the Movie.

Jadi, film ini disutradarai oleh Catherine Hardwicke (“Thirteen”, “Lords of Dogtown”), sedangkan pemeran Edward Cullen adalah Robert Pattinson (Harry Potter and The Goblet of Fire) dan pemeran Bella Swan adalah Kristen Stewart (Into The Wild). Rencananya, film ini akan tayang pada tanggal 12 Desember 2008.

Nah, makin gak sabar nunggu kannn...



Kamis, 05 Juni 2008

Official Trailer Twilight the Movie

seri Twilight

Annyong haseyo!!

Huff. Kayaknya udah lama banget saia gak posting blog ini. Soalnya akhir-akhir ini, kegiatan saia sedang gak menentu a.k.a sibuk. Jadi belum sempet buat posting blog mengenai update terakhir tentang hidup saia (halah). By the way, saia ingin berterimakasih buat beberapa orang yang udah menyempatkan diri untuk mengunjungi blog saia dan meninggalkan comment.

Arigato gozaimasu!!

Khususnya salah satu comment yang memberitahu saia tentang adanya forum Indonesia tentang novel (serial) Twilight. Wah, saia seneng banget, karena—jujur aja—saia sama sekali gak tau kalo novel Twilight karangan Stephenie Meyer itu ada lanjutannya, bahkan udah mau nyampe buku keempat! Wow.

Sejauh ini, saia sudah menyelesaikan sampai seri ketiga, yaitu Eclipse. Dan saia rasa minus mata saia bertambah, karena saia membaca novel ini dalam bentuk PDF. Yup, jadi saia harus rela mantengin laptop sampai berjam-jam demi memenuhi kehausan saia akan kisah Bella Swan dan Edward Cullen. Dan sekarang berhubung novel keempat belum terbit, saia pun menghibur diri dengan membaca novel Stephenie Meyer yang lain (diluar serial Twilight) yaitu The Host. Tapi saia belum bisa nulis resensi novel itu disini, karena selain saia belum selesai bacanya, saia juga belum punya waktu yang memadai buat nulis resensi novel.

Oke, singkatnya, dalam posting kali ini saia ingin menginformasikan kalo novel Twilight yang pernah saia tulis resensinya disini ada lanjutannya. Urutannya adalah sebagai berikut :
1. Twilight

2. New Moon

3. Eclipse

4. Breaking Down (coming soon)

Cuma, sampai hari ini, yang ada versi Bahasa Indonesia-nya baru Twilight aja. Jadi, harap bersabar ya, guys! Oia, Twilight juga udah dibikin filmnya (yes!), tapi baru akan tayang kira-kira bulan Desember tahun ini. Official trailer-nya udah bisa diliat/di-download di YouTube, tapi ntar kalo sempet saia akan tampilin di blog ini deh. Tadinya saia bertanya-tanya, “siapa ya yang jadi Edward???” (harapan saia sebenernya sih Hayden Christensen), dan ternyata pemeran Edward adalah pemeran Cedric Diggory dalam film Harry Potter and The Goblet Of Fire. Hmm, awalnya sempet kecewa pas ngebayanginnya, soalnya kok kayaknya kurang pas, tapi pas liat trailer-nya, hmmm...not bad. I kinda think that he’s kind charming, though. Hehe. Pokoknya dia terlihat beda-lah, waktu di HarPot kan rambutnya pirang, nah kalo di Twilight, rambutnya jadi warna gelap jadinya kontras banget ama kulitnya yang pucat... Cute.. Dan yang jelas, yang jadi Bella-nya cantik (paling gak menurut saia), saia lupa namanya, ntar deh ya di Posting berikutnya saia cantumin dengan lebih akurat mengenai Twilight the movie.

***

Tadi saat saia membaca majalah yang tergeletak di meja makan, saia melihat salah satu artikel yang membahas tentang angka dan kepribadian. Hmmm..jadi tertarik... Hehe. Caranya simpel banget, tinggal nambahin semua angka dalam tanggal lahir sampe menghasilkan angka dari 1-9, trus kalo udah ketemu hasilnya, tinggal baca analisa kepribadian kita menurut angka itu deh.

Setelah saia menghitung-hitung, saia mendapatkan hasil akhir 7. And here’s the result...

Berjiwa damai dan penyayang, tapi analitis dan tidak terlalu terbuka. (check)

Kekuatan diri kamu terlihat dari dalamnya cara berpikir (check gak ya? You choose!). seorang intelektual yang selalu mengumpulkan pengetahuan dan ilmu baru dalam setiap hal yang kamu temukan.

Gak akan menerima begitu saja sebuah pandangan tanpa mengetesnya dan memperoleh konklusi sendiri. (check!! Ini saia banget. Hehe)

Kamu udah bijaksana sejak muda.(Alhamdulillah kalo bener..) Kamu butuh ketenangan agar bisa mengenali isi hati. (check) jumlah temen kamu sedikit, tapi semuanya sangat dekat. Maklum, kamu agak tertutup dan gak suka ngumpul-ngumpul sama banyak orang (bener banget!!!!). Gara-gara itu, beberapa orang menganggap kamu sombong padahal kamu Cuma tipe penyendiri kok. (yah, saia emang sering di”tuduh” sombong beberapa kali. But, it’s okay!)

Sifat negatif kamu adalah manja dan egois, untungnya Cuma sedikit. (masa sih? Kalo kamu nanya ama pacar saia, pasti dia gak setuju kalo dibilang sedikit..hehe) Yang lebih perlu diperhatikan adalah pengontrolan emosi karena emosi kamu bisa naik turun dalam waktu yang singkat alias gak stabil. (ups, lagi2 check!)

Hmmm..gimana?? saia udah nyoba dan mendapat hasil yang bisa dibilang 90% akurat. Mau coba juga???

Selasa, 13 Mei 2008

rescue me...

Saya baru aja selesai ujian (lagi), dan lagi-lagi saya gak yakin akan hasilnya.

Damn
.

Tapi gak heran sih, karena (lagi-lagi) saya baru mulai belajar SATU hari sebelum ujian. Bodoh. Bodoh, kenapa sih selalu aja mengulang-ulang kesalahan yang sama?!
Satu-satunya penghiburan saya adalah ketika saya membahas soal-soal ujian dengan salah satu teman saya yang ehm, bisa dibilang jauh lebih rajin daripada saya, ternyata jawaban saya gak parah-parah amat.Banyak yang sama ama dia. Alhamdulillah.. Mudah-mudahan kali ini "tembakan" saya tidak terlalu banyak yang meleset. Dan mudah-mudahan jawaban teman saya itu juga bener semua. Baik kan ,gw? Hehe.

Cukup tentang ujian, saya ingin ngomongin hal lain aja. Tapi APA? Sekarang ini, jujur aja, saya merasa sedang dalam masa-masa dimana otak saya mulai membeku, afek saya semakin menumpul (euh), dan kurang bergairah (???). Intinya, kalo SEKARANG saya disuruh ngisi GDS, mungkin saya akan memperoleh hasil : kemungkinan depresi. Ha!

Aaaarrgghhh.

Saya ingin teriak, ingin nangis, ingin marah-marah, ingin lari...

I just never thought that my life could feel THIS lonely..

Anyone, please..rescue me.


Selasa, 01 April 2008

Resensi Novel Twilight oleh Stephenie Meyer


Novel ini adalah novel yang ditujukan untuk remaja dengan tebal 518 halaman. Saya baru saja membelinya dua hari yang lalu (tgl 26 Maret 2008, skrg tgl 28 Maret 2008). Dan saya telah menyelesaikannya kemarin sore. Pasalnya ada dua. Pertama, buku ini bagus banget (paling tidak menurut saya) dan ceritanya cukup unik (dan romantis tentu saja, it’s a must, haha). Kedua, hari itu saya sedang kecewa berat dengan salah satu hasil PPHB saya yang sangat jauh dari target (gak perlu saya sebutkan berapa, pokoknya mengecewakan) dan saya pun tiba-tiba jadi sangat ingin menghabiskan waktu sendirian di kamar. Karena entah kenapa, saat saya ditemani dengan pacar saya, sepertinya alam bawah sadar saya segera mengambil alih kendali tubuh saya dan saya pun otomatis merasa ‘rapuh’ dan ingin dilindungi. Agak berbelit-belit ya? Yah, intinya saya jadi terus dan terus menangis. Ups.


Karena itu saya memutuskan untuk sendirian dan menghabiskan waktu dengan melakukan hal-hal yang menyita pikiran dan pandangan saya. Untungnya pacar saya sangat mengerti. Kadang-kadang saya lupa kenapa saya bisa mencintai dia , tapi ini adalah salah satu hal yang mengingatkan saya. Ada ribuan hal lainnya tentu saja, tapi sekarang (atau lebih tepatnya saat itu) saya hanya ingat satu.

***

Novel ini ditulis dalam sudut pandang sang tokoh utama, Isabella Swan (Bella), yang harus pindah dari Phoenix ke kota kecil bernama Forks yang terletak di barat laut Washington untuk tinggal bersama ayahnya, Charlie. Bella yang selama ini tinggal bersama ibunya, Renee, memutuskan hal tersebut untuk memberi kesempatan pada ibunya yang baru menikah dengan suami barunya, Phil, agar dapat menikmati kehidupan pernikahannya yang baru tanpa beban. Bukan berarti Bella tidak menyukai Phil, hanya saja Phil selalu hidup berpindah-pindah, dan Bella berpendapat itu tidak akan baik untuk hidupnya dan mungkin ini adalah kesempatan untuk lebih mengenal ayah kandungnya.


Kota Forks dan Phoenix berbeda dalam banyak hal. Dari mulai cuaca hingga jumlah penduduknya. Bella selalu membenci Forks, dan sangat mencintai Phoenix. Tapi ternyata di Forks-lah ia bertemu dengan Edward Cullen. Edward adalah pemuda bertubuh kurus dengan rambut berwarna perunggu. Dan sangat tampan. Pengarang menyebut ketampanan Edward sebagai “keindahan luar biasa yang memancarkan kekejaman”. Dan dia VAMPIR. (HA! Now you know why I love this book!)


Namun tidak seperti vampir kebanyakan, Edward dan keluarganya (yang semuanya vampir) tidak memburu manusia, melainkan memburu hewan sebagai gantinya. Hanya saja, Edward mengakui bahwa ‘aroma’ Bella merupakan godaan yang amat sangat berat baginya, sehingga karena alasan itulah Edward bersikap sangat kasar saat pertama kali bertemu Bella. Belakangan ia mengakui karena saat itu ia begitu terobsesi dengan aroma tubuh Bella yang membuatnya sangat haus akan darahnya. Perasaan itu diungkapkan sebagai berikut,


“Bagiku kau rasanya seperti semacam roh jahat yang dikirim langsung dari nerakaku sendiri untuk menghancurkanku. Aroma yang menguar dari kulitmu...Kupikir akan membuatku gila pada hari pertama itu. Dalam satu jam itu aku memikirkan seratus cara berbeda untuk memancingmu keluar dari ruangan itu bersamaku, agar aku bisa berdua saja denganmu...”


“Tentu saja, kemudian kau nyaris mati tepat dihadapanku. Baru setelahnya aku menemukan alasan yang sangat tepat mengapa aku beraksi saat itu—karena jika aku tidak menyelamatkanmu, jika darahmu tercecer disana didepanku, kurasa aku takkan bisa menghentikan diriku mengungkapkan diri kami sebenarnya. Tapi aku baru memikirkan alasan itu setelahnya. Saat itu, bisa kupikirkan hanyalah,”Jangan dia.””


Tapi lebih dari semua itu, Edward sangat mencintai Bella. Sangat melindungi Bella. Dan Bella begitu irrasional dapat menerima kenyataan siapa sebenarnya Edward dengan begitu tenang. Tapi saya rasa, saya pun akan bersikap seperti Bella dicintai dengan amat sangat oleh Edward. Siapa sih yang bisa bilang ‘tidak’ dengan laki-laki tampan, pintar, dan vampir BAIK. What else could a girl ask for?


Masalah timbul ketika vampir dari koloni yang berbeda datang berkunjung ke Forks. Koloni ini adalah kategori pemburu. Yup, pemburu manusia. Dan salah satu dari mereka tiba-tiba saja terobsesi dengan Bella. Selain karena ‘aroma’nya yang enak juga karena kenyataan bahwa Edward melindungi Bella. Pemburu itu, bernama James, merasa tertantang. Dan kejar-kejaran pun dimulai dengan melibatkan seluruh keluarga Edward yang berusaha menyelamatkan Bella. Ada satu momen yang saya sukai saat ini, yaitu saat Bella mengkhawatirkan keluarga Edward karena berusaha menyelamatkan dengan segala upaya dan mengungkapkannya pada Alice, adik Edward.


Alice menjawab,”Hampir satu abad lamanya Edward seorang diri. Sekarang dia telah menemukanmu. Kau tak bisa melihat perubahan yang kami lihat, kami telah bersama dengannya untuk waktu yang lama. Kau pikir kami tega menatap dalam matanya selama ratusan tahun yang akan datang bila dia kehilangan dirimu?”


Manis banget, kan?


Jadi cinta memang tidak hanya untuk sepasang kekasih, kan?


Intinya, novel ini sangat layak dibaca untuk kalian yang suka akan kisah cinta yang tidak biasa. Memang, novel ini tidak ‘sedalam’ novel The Time Traveller’s Wife karangan Audrey Niffenegger, tapi novel ini sangat indah dengan caranya sendiri. Tambahan lagi novel ini masih cocok dibaca untuk kalangan remaja. So guys, what’re you waiting for? Go grab this book on store or you can borrow mine. Karena tujuan utama saya menulis resensi-resensi dari novel-novel yang saya sukai adalah untuk menemukan orang-orang yang juga mencintai buku-buku yang saya cintai.


Oia, harga buku ini 60000 IDR di Toko Buku Gramedia, agak mahal tapi layak kok.


Rating pribadi saya adalah DELAPAN dalam skala 1-10.


P.S Saya tidak menceritakan lebih detil lagi karena takut akan merusak semua hal-hal menarik yang seharusnya tetap jadi kejutan.


P.S.S WARNING : yang akan saya tulis di bawah ini mungkin termasuk kategori spoiler...

...It has a beautiful happy ending...

Jumat, 14 Maret 2008

Aku Cinta Farmako (bohong BESAR)

Halooo...

Apa kabaaaarr?

Udah lama nih gak update blog posting, kangen bgd! Beberapa hari terakhir ini gue sibuk ikut Semester Pendek atau—klo ingin make istilah yang lebih tepat—Program Peningkatan Hasil Belajar Modul Pengantar Laboratorium Medik (bener gak ya? Yah, pokoknya gitulah yaa..) Secara pribadi gue lebih suka menyebutnya sebagai SP.

Ngomongin masalah SP, gue pengen cerita atau lebih tepatnya curhat ttg obsesi gue (atau penyesalan gue) buat ngedapetin IPK ‘lebih’. Ada satu penyesalan dalam diri gue (ehm) kenapa gak dari dulu-dulu aja gue ngambil SP 2 siklus sekaligus dalam tiap akhir semester. Masalahnya selama ini gue cuma ikut SP kalo ada mata kuliah yang gak lulus aja. Gue selalu amat malas untuk meningkatkan nilai yang sudah ada. Dan sekarang gue baru menyadari bahwa IPK gue kurang dari harapan gue.

Damn.

Sebenarnya IPK gue gak jelek, tapi juga gak bagus-bagus amat. Standar. Dan gue benci itu. kok keliatannya gue gak mensyukuri ya? Karena diluar sana masih banyak temen-temen gue yang IPK-nya lebih buruk dari itu dan sepertinya nyantai-nyantai aja. Tapi, sepertinya sama seperti kita gak boleh selalu nengok ke ‘atas’, menurut gue gak baik juga klo kita terus-terusan nengok ke ‘bawah’. Karena setiap gue nengok ke ‘atas’, gue ngerasa iri setengah mati dengan orang-orang yang prestasinya di atas gue dan berpikir, “Kalo dia bisa, kok gue gak sih?”

Dan mulailah hitung-hitungan target nilai dimulai, dan sepertinya gue mulai agak terobsesi. Karena sempet beberapa hari yang lalu, saat gue masih dalam persiapan menuju ujian SP MP6, gue jadi angin-anginan ama cowok gue. Gampang marah Cuma karena dia ngajak ngabisin waktu berdua bentaarr aja. Cowok gue ampe bilang, “Kenapa sih sayang? Kamu tuh sebenarnya punya banyak waktu.”

Waktu itu gue melotot sambil ngelirik dia sebel, menatap dengan tatapan permusuhan, persis kayak anak kecil yang dibilangin kalo makan jempol itu SALAH. Tapi sekarang setelah semua udah lewat (ujiannya maksud gue, bukan makan jempolnya), gue baru nyadar bahwa cowok gue bener. Karena waktu itu gue marah-marah ama dia saat LIMA hari sebelum ujian. Abis gimana dong, gue pengeeennnn banget naikin nilai gue jadi A. Minimal sih B+. ITU obsesi gue.

Karena itu untuk ujian kali ini, gue bela-belain ngebaca dan mencoba memahami mata kuliah Antimikroba padahal biasanya materi kuliah ini langsung gue lewatin gitu aja dan hanya berharap atas keberuntungan gue aja. Kenyataannya? Gue tetep bingung dan akhirnya TETAP mengandalkan insting gue.. tapi ada perkembangan sihhh.. kali ini tebakan-tebakan gue ada yang ‘nyangkut’. Yes! Hoho. ^_^V gak banyak sih, tapi lumayan lah..

Doain gue ya, mudah-mudahan obsesi gue jd kenyataan..

Selasa, 19 Februari 2008

P.S I Love You


Gue baru aja pulang nonton film “P.S I Love You” di Anggrek XXI. Dan gue rasa gue masih terhanyut dengan ceritanya. It’s just sooo beautiful! I cried 4 (or maybe 5? Can’t tell..) times when i watched this movie.

Gue gak akan ngebocorin jalan ceritanya dalam posting ini, ‘cause it will ruin all the surprises. Tapi yang jelas ini salah satu film yang bisa sangat mempengaruhi emosi gue. Setelah nonton film ini, gue jadi berpikir, maybe it’s okay to fight all the time with the one you love. Maybe it doesn’t always mean that you and him are not meant to be. Maybe sometimes it shows how you feel about each other.Maybe it even can make you get closer to each other, to know each other better.

Film ini terasa ‘dalem’ banget bagi gue karena hampir merefleksikan hubungan yang gue jalin sekarang (except the dying part,of course). All I want to say is that I, too, often argue with my boyfriend, sometimes we said cruel things too. But, after that, we ALWAYS hugged each other so close, said i’m sorry with tears in the eye, said I love you hundred times, and kissed too.


Kadang-kadang disaat-saat gue sendirian (seringnya sih saat gue mau tidur), gue suka berpikir sendiri dan bertanya ama diri gue sendiri. Kira-kira seperti apa hidup gue kalo tiba-tiba cowok gue, emm, hate to say this, meninggal? Dan biasanya pertanyaan gue ini dijawab dengan isak tangis gue sendiri yang entah muncul dari mana. Gue tahu gue seperti orang bodoh bertingkah seperti itu, but that’s how i feel. Gue gak bisa menyangkal kalo Zudy udah menjadi bagian terpenting dari hidup gue, bagian dari diri gue..

We grew up together.

We share everything in this 5 years. You name it, we had it all.

Gue gak bisa dan gak mau ngebayangin bagaimana hidup gue tanpa dia nantinya. Gue begitu terbiasa dengan semua hal tentangnya. His hug, his kiss, his smile, his laugh, EVERYTHING about him. Yang ingin gue tau adalah, kalo hal kejam itu bener-bener terjadi, how do I live my life?

Duh, kayaknya udah saatnya gue mengompres kepala gue dengan air dingin. Gue udah mulai terlalu ‘terbawa’ dengan film tadi. You HAVE to watch this movie!!! That’s the best advice i could give this time.

God, I MISS him..


(lg nunggu mw nonton film P.S I Love You di TA)

”It’s always something in the way, it’s always something getting through

Well it’s not me, it’s you..

Sometimes ignorance rings through, I hope it’s not what i know

It’s not in me, it’s in you..

It’s all I know..

And I find peace when I confuse, I find hope when I let down

But not in me, it’s in you..

It’s all I know in you..”

Switchfoot - You

Switchfoot- You.mp...

in memoriam


Waktu gue kelas 1 SMU, gue punya sahabat bernama Pinne Piliang. She’s a simple kind of girl. Humble. Smart. And all that. Simpelnya, dia itu orangnya lurus-lurus aja. Gue akui (dan gue gak sering mengakui ini) kalo gue kadang merasa iri dengan kelebihannya, walaupun dalam lubuk hati gue, gue tau kalo gue juga punya kelebihan-kelebihan yang dia gak punya. But sometimes this feeling just come without permission.

Mungkin gue Cuma iri dengan sifat terbukanya yang menenangkan. Dia orang sangat, sangat ramah. Kebalikan dengan diri gue yang agak tertutup dengan orang-orang baru, yang akhirnya menampilkan sosok gue sebagai ‘orang sombong’. I didn’t mean to, gue hanya bukan orang yang punya cukup rasa percaya diri untuk langsung haha-hihi ama orang yang baru gue kenal. You met me, i’ll smile to you. Udah. Pathetic,huh?

Kembali ke Pinne, salah satu alasan yang mungkin bikin gue kadang menganggap dia sebagai ‘saingan’ gue sebenarnya sangat kekanakan. Cowok gue, yang dulu juga sekelas ama gue, pernah bilang ke gue gini,”Sayang, kalo kamu dulu nolak aku, mungkin orang yang paling mungkin aku pacarin itu Pinne.”

Singkatnya, Pinne dan gue adalah tipe cowok gue. Ugh. Yah, gue tau itu bukan salah Pinne sama sekali, dan gue kadang benci ama diri gue sendiri. But,hey, I’m woman. I can’t stand when my boyfriend talks wonderful thing he adores about another girl. Even my own bestfriend.

Tapi bukannya gue jadi gak suka ama Pinne lohh. Gue sayang Pinne, tapi ada lah rasa ingin jadi ‘lebih’ menyala-nyala di hati gue. Dan gue gak pernah menyadari bahwa beberapa bulan kemudian gue akan amat sangat menyesali perasaan tersebut.

***

Akhir semester 1 kelas 1 SMU, tepatnya waktu classmeeting, Pinne sakit. Demam biasa katanya. Gue gak begitu inget dia gak masuk berapa hari, kalo gak salah sekitar 2 atau 3 harian gitu. Waktu dia akhirnya masuk sekolah, gue gak sempet maen dan ngobrol banyak ama dia, karena jujur aja saat itu perhatian gue sedang terfokus ama cowok gue. Karena cowok gue akan pindah ke Solo semester 2 itu juga. Gue hanya sempet ngobrol ama Wiwid (sahabat gue yang satu lagi), dan Wiwid bilang kalo tadi Pinne dijemput ama orangtuanya. Gara-garanya pas Pinne ngobrol-ngobrol ama Wiwid, Wiwid menemukan adanya benjolan di belakang telinga Pinne. Kanan dan kiri.

Siangnya Pinne ngirim SMS ke kami bertiga (gue, Wiwid, dan Vita) isinya ngasitau kalo dia ternyata lagi sakit radang kelenjar getah bening. Gue, yang saat itu sama sekali belum ngerti apa artinya ‘pembengkakan kelenjar getah bening’, sama sekali gak curiga. I thought it was just another disease that will disappear in 2 or 3 days, like flu. But i’m wrong. Very wrong.

Karena ternyata penyakit Pinne gak sembuh dalam 2-3 hari. Bahkan dalam 1 minggu. Saat akhirnya Pinne gak masuk sekolah juga setelah beberapa hari, gue dan temen-temen yang lain pun bolos sekolah buat ngejenguk dia. Saat ketemu dia di rumah, gue menemukan Pinne yang ceria seperti biasa, cantik seperti biasa, dan latah seperti biasa. Matanya berseri-seri karena bahagia nyambut kita semua. Dia Cuma pucat sedikit dan perutnya terlihat lebih gemuk. Cuma itu.

Kita bercanda, ngobrol, bahkan gue sempet tidur-tiduran di kamarnya sebentar. Bahkan dia sempet pesen ke cowok gue supaya jangan macem-macem selama jauh dari gue. Cowok gue Cuma tertawa. Lalu kitapun pamit pulang.

***

Di hari keberangkatan cowok gue ke Solo, gue sedih banget karena gue gak bisa ikutan nganter dia ke Bandara. Jadinya gue Cuma ngobol lewat telpon aja. Waktu lagi ngobrol-ngobrol gitu, tiba-tiba cowok gue bilang dia ngeliat Pinne. Cowok gue pun nyamperin Pinne, dan cowok gue ngasih telponnya ke Pinne supaya gue bisa ngomong ma Pinne. Saat itu yang gue rasakan adalah kesel. Kenapa? Simply karena gue lagi sedih banget mau ditinggalin cowok gue, jadi gue kesel ada yang ngeganggu kebersamaan gue (iya,iya gue tau gue selfish,childish,etc. Tapi itulah SAAT ITU yang gue rasain).

Dengan berat hati gue pun menyambut sapaan Pinne dan memaksakan suara ceria saat berbicara dengannya. Sampai sekarang gue masih merasa jijik ama diri gue sendiri tiap gue inget hal ini. How could I did that to my bestfriend?!

Gue nanya dia mau kemana, dia bilang dia mau ke Jakarta, berobat. Gue tanya, berapa lama? Dia bilang gak tau, mungkin sekitar sebulanan gitu. Gue heran, karena setau gue 3 hari lagi udah masuk sekolah lagi (saat itu libur semester). Saat gue menanyakan hal itu ke dia, dia juga mengeluh tapi apa boleh buat, kata dokter dia sebaiknya berobat ke Jakarta. Lalu kita ngobrol sebentar dan telpon pun dikembalikan ke cowok gue. Saat itu gue sama sekali gak menyadari bahwa itu adalah terakhir kalinya gue ngobrol ama Pinne. Terakhir kalinya gue mendengar tawanya yang renyah.

***

Dua minggu setelah keberangkatannya ke Jakarta, Pinne meninggal dunia. Ternyata penyakit yang dia derita bukan radang kelenjar getah bening, tapi leukimia akut. Gue menerima kabar itu lewat telpon. Tepatnya Icha-lah yang ngabarin gue sambil terisak-isak. Sampai saat itu, gak pernah gue menyadari betapa gue sayang ama Pinne. Betapa gue kehilangan. Betapa gue merasa sangat bersalah sempat merasa kesal dengannya. Betapa gue menyesal bahwa disaat terakhir gue bicara dengannya, gue gak ikhlas. Gue dikasih kesempatan buat bilang gue sayang dia, tapi gue gak bilang.

Gue terisak-isak semalaman. Gemetar menekan berapa puluh nomor telpon temen-temen gue yang lain buat ngabarin berita duka itu entah untuk keberapa kali. Gemetar menahan tangis saat ngangkat telpon dari temen-temen gue yang lain yang nanyain kebenaran berita itu. Gue gak percaya sahabat gue udah gak ada. Tadinya gue berharap ada suatu kesalahan. Pasti ada kekeliruan!

Bahkan saat berada di dalam mobil menuju ke rumah Pinne, gue masih merasa kalo kami gak akan menemukan apa-apa di rumahnya. Bahwa Pinne masih hidup. Gue membayangkan kami semua akan disambut wajah kebingungan orangtua Pinne yang akan mengklarifikasi bahwa berita itu gak benar, bahwa Pinne minggu depan bisa masuk sekolah lagi. Tapi bukan itu yang kami temukan. Yang kami temukan adalah tenda dan kursi-kursi yang udah tersusun rapi di depan rumah. Kami disambut rangkaian bunga bertuliskan ‘Turut Berduka Cita’. Dan tangis gue pun makin deras.

Itu adalah pertama kalinya gue kehilangan orang yang sangat dekat dengan gue. Gue pernah menghadiri pemakaman kakek dari ayah gue, tapi gue dan kakek gue gak pernah benar-benar dekat. Beliau hanya bagian dari masa kecil gue. Sehingga tangis gue saat itu lebih kepada rasa sedih gue karena ngeliat ayah gue nangis sedih. Gue nangis karena gue gak tega liat ayah gue nangis. Tapi sekarang beda. Sekarang gue nangis karena emang gue sangat merasa kehilangan Pinne.

Like a comet, blazing cross the evening sky

Gone too soon..

Like a rainbow, fading on a twinkling of an eye

Gone too soon..

Shiny and sparkly, and splendidly bright

Here one day, gone one night..

Gone too soon..

Michael Jackson – Gone Too Soon

Minggu, 17 Februari 2008

i forgive you

Gue lagi seneng banget dengerin lagunya Tamia yang The Way I Love You. Karena entah kenapa tiap kali gue denger lagu itu, gue selalu teringat cowok gue and i miss him instantly.Intinya gue sedang dalam suatu fase dalam hidup gue dimana gue sedang jatuh cinta ‘lagi’ dengan cowok gue. Ha? Kok bisa? Gue juga gak tahu.

Tamia - The way I ...

Gue sedang dalam masa ‘dangdut’ dimana setiap gue ngeliat sosok cowok gue, gue akan merasakan semburan (ehm) rasa sayang yang memenuhi hati gue (maaf kalo bahasa yang gue gunakan kali ini agak berat,hehe..). Dan tiap kali gue gak ketemu dia, gue ngerasa kangen berat plus timbul rasa takut yang gak wajar. I’m afraid of losing him. Di saat-saat kayak gini, gue biasanya selalu teringat mantan-mantan cowok gue (lho?). Yah, kadang-kadang gue masih bete aja kalo inget kisah masa lalu cowok gue. I even cried sometimes, especially when i’m in my PMS period. Tapi disaat akal sehat gue ‘jalan’, gue mikir,kenapa sih gue gak bisa ngelupain aja segala masa lalunya dia?. Why can’t I just let it go? Padahal gue tahu bahwa itu nyiksa dia. Karena gue sendiri tersiksa tiap kali dia mengungkit masa lalu gue.

Mungkin gue bukannya gak bisa ngelupain itu semua, gue rasa gue sebenernya gak mau. Mungkin gue gak mau gak punya senjata buat ngebales tiap dia ngungkit masa lalu gue. Mungkin gue nyimpen itu semua buat jadi pembelaan diri gue terhadap apa yang udah gue lakuin di masa lalu. But,baby, I’m sorry, okay? I really am sorry that i’ve hurted you so bad.

Can we just let it go?

Gue jadi teringet kata-kata dosen gue, dr.Danny Wiradharma. Beliau adalah salah satu dosen yang sangat gue segani dan kagumi sekaligus panutan gue. Beliau pernah bilang bahwa kita gak bisa dikatakan hidup kalo kita masih terikat dengan masa lalu, ataupun kalo kita terlalu memikirkan masa depan. Karena kita hidup di masa kini. Sekarang.

Gue sering merenungkan kata-kata itu. Sekarang pun masih. Dan gue memutuskan bahwa gue mau ‘hidup’. Hidup di masa kini. Dan hal pertama yang harus gue lakukan adalah maafin diri sendiri atas semua kesalahan masa lalu yang nyakitin orang yang gue sayang.

And to you, yeah you, the one that i love so much, i forgive you. I forgive your past, i forgive all of your memory with her, i forgive your relationship with her, i forgive your lies, i forgive it all. Now please live with me. Live with me now, live with me in everyday of your life. No her, no lies. Just live with ME.

“It’s unbelievable, but i believe you

It’s unforgivable, but I forgive you”

Kaci Brown - Unbelievable


Jumat, 25 Januari 2008

Review buku The Time Traveler's Wife


Di posting kali ini gue ingin mencoba kemampuan gue dalam me-review buku. Dan buku pertama yang gue pilih untuk jadi kelinci percobaan gue adalah novel The Time Traveler’s Wife karangan Audrey Niffenegger. Kenapa buku ini? Karena gue suka banget buku ini. I cried like a baby when i read this novel.


Okay, here we goes...

Novel The Time Traveler’s Wife menceritakan tentang perjalanan kisah cinta antara Henry DeTamble dan Clare Abshire. Tapi jangan harap kalian akan menemukan kisah cinta yang ‘biasa’, karena dalam novel ini kita akan terbawa untuk menyelami fantasi sang penulis yang terasa sangat nyata. Kenapa? Karena Henry adalah manusia yang spesial. Henry mempunyai ‘kemampuan’ untuk berpindah waktu entah itu ke masa lalu ataupun ke masa depan dalam rentang waktu 50 tahun ke masing-masing arah.

Dia tidak dapat mengontrol ataupun memperkirakan kapan dan dimana dia akan menjelajahi waktu. Kau sedang menonton TV blast! Kau muncul telanjang bulat di tengah padang rumput 10 tahun yang lalu. Begitulah kira-kira.

Ketika sedang menjelajahi waktu ke masa lalu inilah saat Clare yang masih berusia 6 tahun bertemu pertama kali dengan Henry yang saat itu telah berusia 36 tahun. Tapi bukan pada saat itulah Henry pertama kali bertemu dengan Clare. Ia pertama kali bertemu dengan Clare pada saat usianya 28 tahun dan ia tidak sedang menjelajahi waktu.

Bisakah kalian melihat sesuatu dari ini?

Ya, berarti, saat Clare pertama kali bertemu dengan Henry, justru Henry saat itu telah mengenal Clare sebagai istrinya tercinta. Dan saat Henry pertama kali bertemu dengan Clare, Clare justru telah mengenal Henry hampir seluruh hidupnya sejak ia berusia 6 tahun. Itulah salah satu keindahan yang ditawarkan oleh Niffeneger. Dan gue jatuh cinta dengan novel ini. Selamanya.

Bukan hanya jalan ceritanya yang abu-abu, alias tidak nyata sekaligus terasa begitu nyata, tapi juga gaya penulisannya yang sangat mengalir hingga alur yang sebenarnya mungkin agak berat jadi terasa ringan. Ringan tapi sekaligus menghanyutkan. Gue rasa mungkin selain jatuh cinta dengan novel ini, gue juga sempat jatuh cinta dengan Henry. Atau mungkin lebih tepatnya gue jatuh cinta dengan kisah cinta Henry dan Clare.

Buat pembaca yang belum membaca novel ini, gue sangat merekomendasikan novel ini. Jangan khawatir, novel ini gak akan menyuguhkan kisah cinta yang mendayu-dayu berlebihan ataupun dunia fantasi seperti novel-novel Roald Dahl. Gue janji, novel ini gak begitu.

Bahkan biarpun lo cowok, gue janji, novel ini gak cengeng.

Oia, kembali ke masalah novel. Satu lagi keindahan yang bikin gue jatuh cinta dari novel ini. Ending-nya. Lagi-lagi gue hanya bisa menyebut akhir dari novel ini sebagai ‘abu-abu’. Karena setelah gue pikir-pikir, akhir novel ini sebenarnya gak happy ending, tapi entah kenapa, gue merasa kalo ITU adalah akhir yang...mm, apa yah, memuaskan.

Yah, singkatnya, gue sangat merekomendasikan novel ini bagi kalian yang mau SEDIKIT bersusah-susah membaca buku yang agak lebih tebal dari 200 halaman. Tapi gue jamin, novel ini bukan novel KOSONG. Lo bakal merasakan SESUATU dalam hati lo setelah baca novel ini, gue gak tau apa, but there IS something.

Berikut gue cantumin cuplikan dari novel ini...

...Bagaimana rasanya? Bagaimana rasanya?

Terkadang rasanya seakan perhatianmu mengembara sejenak. Kemudian dengan tekejut kau menyadari buku yang kau pegang, kemeja katun kotak-kotak merah berkancing putih, celana jins hitam kesayangan, dan kaus kaki merah tua yang salah satu tumitnya nyaris berlubang, ruang tamu, teko teh yang hampir bersiul mendidih di dapur : semuanya menghilang. Kau berdiri, telanjang bulat, terendam air es sampai pergelangan kaki di selokan di sepanjang jalan pedesaan yang tak dikenal...

Dan ini salah satu bagian yang gue suka...

...dan Clare. Selalu Clare. Clare di pagi hari, mengantuk dan berwajah kusut.Clare dengan kedua lengan tenggelam dalam tong pembuatan kertas,menarik cetakan dan menggoyang-goyangnya sedemikian rupa,untu menyatukan serat-seratnya. Clare membaca, dengan rambut tergerai di balik kursi. Clare memijatkan salep pada kedua tangannya yang merah dan pecah-pecah sebelum tidur. Suara rendah Clare sering terdengar di telingaku.

Aku benci berada di tempat ia tak ada, di saat ia tak ada. Tetapi aku selalu pergi dan ia tak bisa menyusul.

Senin, 07 Januari 2008

halo jakarta!!!

Halo Jakartaaaaa...

Huahh.. Setelah kurang-lebih 2 minggu ninggalin kota yang panas (tapi sekarang sering ujan sihh..) ini, akhirnya gue kembali juga menempati kosan gue tercinta. Huff. Welcome (again) to Grogol, the city of chaos. Hehe.

Agak terlalu dramatis sih emang kalo gue sebut kayak gitu, but hey, it’s my opinion, right? It’s up to me to say anything that i want i my own blog. JYou name it, we, in Grogol Corporation, has it. Kecuali mungkin, mm, apa ya..pembunuhan? Ihh, jangan sampe deh. (Duh, gue ampe merinding gini.) Oh, mungkin gue harus ganti motto diatas menjadi, “We are in Grogol Corporation only has SOME kind of chaos, not ALL.”. Yah, abisnya menurut gue, lo bisa nemuin apa aja yang berbau kekacauan disini. Polusi? Jelas. Macet? Jangan ditanya lagi. Stress karena ujian? Ya, hadir! Kecelakaan? Ada juga, biarpun sering absen.

Yah, pokoknya gitu deh! Tapi bukan berarti gue benci tinggal disini, gue enjoy kok. Cuma gak bisa juga kalo dibilang gue cinta tinggal disini. Satu hal yang gue suka dari hidup gue disini adalah kebebasan. Bukan dalam artian jelek. Cuma sekedar gak usah repot sana-sini kalo mau pulang telat atau mau nginep di tempat temen. Trus gue bisa nge-design kamar kosan gue sesuka hati gue tanpa harus mempertimbangkan pendapat mama-papa, juga termasuk milih barang-barang yang akan gue pakai sesuka gue. Semua yang gue jalani adalah murni pilihan gue sendiri dan atas pemikiran pribadi gue (kadang dengan sedikit masukan dari orang-orang disekitar gue kayak Zudy, sahabat-sahabat dikosan, dll). Dan semua itu menyenangkan, sangat menyenangkan.

baikaannnnn....

Tadi pagi (jam 07.15) alarm HP gue bunyi. Gue pun menyalakan HP gue yang semalaman mati. Maklum, tadi malem gue lagi bete berat (gara-gara ‘Tragedi Lemari Baru’ makanya HP-nya gue matiin.

KnockKnock!

Ada SMS masuk. Dari cowok gue.

Syg..maafin aq. aQ emg egois. Egoiss bgd! Aq tau akhir2 ini emg srg marah2 ma syg. Srg bikin syg sedihh. Maafin aq syg.. aq kngenn bgd ma kmu.

Huaaa. Gue bener-bener gak nyangka cowok gue secepat ini minta maaf ke gue! Walaupun gue ngaku, gue emang berharap dia bakal nyadar kalo sikapnya itu bikin gue gak nyaman dan akhirnya minta maaf ke gue. How sweet..

Tapi gue gak langsung bales SMS-nya, soalnya gue masih ngantuk banget. Dengan tersenyum kecil, gue pun tertidur (lagi) sampe kira-kira jam setengah sembilan.

Ahh.. rasanya plong banget. Ternyata hubungan gue ama cowok gue gak serapuh yang gue takutkan. Oke, gue akuin emang dia (kadang-kadang) agak keras, tapi setelah gue pikir-pikir lagi, dia gak pernah sekalipun nyakitin gue secara fisik. Dan gue percaya dia gak akan pernah nyakitin gue.

***

Barusan gue selesai ngerubah posisi barang-barang di kamar gue buat nyesuain ama lemari baru gue yang tercinta. Waktu lagi ngeluarin barang-barang gitu, sadarlah gue kalo ternyata barang gue tuh BANYAK. Sangat banyak.

Agak shock juga ngeliatnya, hampir aja gue panik gara-gara pikiran, “Ini semua gak mungkin bisa masuk lagi ke kamar gue!”.

Tapi gue berusaha sok cuek, pelan-pelan gue dan cowok gue (karena udah baikan, dia pun gue berdayakan lagi buat ngebantuin ngangkat-ngangkat barang.hehe) ngerapihin lagi barang-barang itu. Dan AKHIRNYA semua bisa masuk ke kamar gue (lagi) dengan sukses dan (ternyata) rapi.

Ada satu insiden kecil yang terjadi waktu lagi beberes tadi. Yaitu waktu gue narik salah satu laci bawah dari lemari baru, tiba-tiba...ctak!

Lacinya copot.

Copot disini bukan copot aja, tapi semua sisinya lepas. Ternyata kemaren gue dan cowok gue gak terlalu kenceng waktu nyekrup laci tersebut.

Deg.

Gue mulai was-was. Duh, jangan bilang kita bakal berantem lagi gara-gara ini.

Gue udah siap-siap aja cowok gue sensi lagi. Tapi ternyata gue salah. Cowok gue malah langsung nyuruh gue ngambil obeng buat ngebenerin laci itu dan dia tetep ketawa-ketawa.

Huah..Leganya gue. Tapi gantian, malah ujung-ujungnya gue yang senewen ngeliatin dia kerja. Untungnya cowok gue gak sewot ngeliat tampang gue yang mulai datar-menjurus-ke-arah-bete. Dia malah cengar-cengir sambil ngeledekin gue,”Gitu aja maraahh..”

Ya gue gak jadi marah donk. Malah gue jadi ngerasa sayaaaang banget ama cowok gue. Gak tau kenapa tiba-tiba aja ngerasa gitu. Yang jelas bukan gara-gara sosoknya saat itu yang mirip tukang bangunan dengan obeng di tangan kanan, laci setengah jadi di tangan kiri, dan debu-debu lucu di seluruh tubuh.

Dan malam ini gue pun tertidur dengan tenang.